Hai, Jus Wortel

“Kak Rei.” Aku berteriak memanggil nama seorang lelaki jangkung berkulit sawo matang. Akan tetapi, dia tidak mau menoleh sedikit pun ke arahku. Dia terus saja berjalan tanpa memperdulikan panggilanku. 

“Cha.” Aku terperanjat kaget saat ada yang memanggil namaku. Mataku pun mulai terbuka dan melihatnya. 
Mi.”
Ada apa?
Kak Rei, jawabku. Aku menangis dalam pelukan Mi. 
Lima tahun berlalu, aku masih saja mengingatnya, memimpikannya, bahkan menangisinya saat mengingatnya. Aku belum bisa melupakan sosok kak Rei.
***
Jus wortel sudah di depan mata. Aku masih memandangnya. Lebih jauh lagi. Aku ingat saat itu. Kak Rei dengan kacamata minusnya menegak habis jus wortelnya.
“Jus wortel ini sangat berarti buat mataku, katanya setelah menghabiskan segelas jus wortel. Setiap kali ke Pingpong Cafe, kak Rei selalu memesan jus wortel. Dan aku yang akan menjadi korbannya. 
“Kenapa? Bosan melihatku pesan jus wortel lagi.” Aku kangen mendengar kata-katanya setiap kali aku manyun saat kak Rei memesan jus wortel. Aku bersikap seperti itu bukan karena kebiasaannya minum jus wortel. Tetapi, kebiasaannya menyuruhku minum jus wortel juga yang membuatku manyun. 
“Hei, Cha,” sapa Mi, mengagetkanku.
“Eh, Mi.”
Ada apa? Kak Rei lagi? tanya Mi.
Aku menggangukkan kepalaku seraya mengaduk-aduk jus wortel. 
“Jus wortel.
“Ada apa? Spontan, aku mengalihkan pandanganku ke arah Mi.
Tiba-tiba aku jadi ingin minum jus wortel.” Aku melihat Mi beranjak dari kursinya dan pergi ke meja menu untuk memesan jus wortel.
“Kak Rei, kali ini kamu punya pengikut lagi selain aku, Mi. Dia mulai menyukai jus wortel sekarang. Katanya setelah minum jus wortel dan senam mata, minusnya mulai berkurang. Aku juga, mataku terasa lebih jernih dan sehat. Terima kasih sudah menularkan kebiasaan baikmu padaku,” batinku.
“Ih, sebel. Uh ...”  
“Kenapa, Mi?” 
“Wortelnya habis.”
“Kok bisa?”
“Katanya akhir-akhir ini susah sekali nyari wortel buah.”
“Ya, sudah. Minum saja punyaku. Nih.” Aku menyodorkan segelas jus wortel milikku.
“Boleh?”
“Iya.”
“Tapi, jangan ...” Aku belum menyelesaikan perkataanku, Mi sudah menghabiskan jus wortelku. Dihabiskan.  
“Lho, Cha. Sudah habis.”
“Ah, Mi. Aku baru menyesapnya sekali.”
“Maaf. Aku yang bayar dech.”
***
“Chaca,” teriak Mi dari pintu masuk saat melihatku duduk di tempat biasanya. Aku terlonjak kaget mendengarnya. Bukan hanya aku saja, pengunjung lainnya pun menatap tajam ke arah Mi, tanda, mereka tidak suka dengan kehebohan yang dibuat Mi. Yang ditatap cuek saja, tidak merasa bersalah sama sekali. Ia berteriak-teriak seperti di rumah sendiri saja. 
“Nggak perlu teriak-teriak gitu kali, Mi.”
“Aku seneng banget, Cha. Aku baru saja dapat hadiah istimewa.”
“Apa?”
“Aku mendapat izin dari ayah untuk kursus bahasa Korea.”
Benarkah? tanyaku sambil mengaduk-aduk jus wortel di hadapanku.
Iya, Cha. Ayah juga menyetujui keputusanku mengambil jurusan sastra Korea selepas SMA nanti. Awalnya sih, ayah sempat meragukan keputusanku. Tetapi, setelah ayah mendengarkan alasanku masuk sastra Korea, ayah pun mengizinkan.” Aku mendengarkan cerita Mi dalam diam. Mataku tertuju pada jus wortel. Pikiranku melayang ke hari itu, kak Rei masih bersamaku.
Saat ulang tahunku yang ke-12, kak Rei mengajakku berlibur ke perkebunan milik temannya. Aku senang sekali. Akhirnya, kami sekeluarga bisa berlibur bersama. Dari dulu aku ingin sekali jalan-jalan ke perkebunan bersama ayah, bunda, dan kak Rei. 
Karena keasyikan berkeliling perkebunan, aku melupakan jalan untuk pulang. Aku tersesat. Aku tidak tahu lagi harus melangkah ke mana. Bahkan aku tidak menyadari ada lubang yang membuat kakiku sakit. Lalu aku terduduk di bawah pohon besar. Tangisku semakin kencang, diselingi dengan teriakan memanggil kak Rei. Tidak ada seorang pun yang menyahut teriakanku. Aku pun kelelahan dan mengantuk, tertidur di pohon itu ditemani angin semilir. 
“Cha, bangun. Seseorang membangunkanku. Aku membuka mataku dan kulihat kak Rei sudah ada di depanku. Aku langsung memeluk kak Rei.
“Cha,” panggil Mi, membuyarkan lamunanku.
“Ya, Mi. Ada apa?”
“Kamu nggak dengerin aku ya?”
“Aku ingat semua yang terjadi pada hari itu, Mi” Aku menundukkan kepalaku, meletakkan di atas kedua tanganku yang terlipat. Aku menangisi apa yang pernah terjadi padanya waktu itu.
Aku lari dari rumah, meninggalkan ayah, bunda, dan kak Rei. Aku mendengar kak Rei akan ke Jepang, melanjutkan sekolahnya di sana. Itu artinya aku tidak bisa lagi bermain bersama kak Rei. Empat tahun, itu bukan waktu yang singkat. Jika kak Rei pergi, aku sendirian di rumah. Dibanding dengan ayah dan bunda, aku lebih dekat dengan kak Rei. Dialah yang selalu menemaniku ketika ayah dan bunda sibuk bekerja sampai malam. Karena itu, aku tidak rela kak Rei meninggalkan rumah.
Braaakkkkkkkk. Aku menoleh ke sumber suara. Aku melihat kak Rei tergolek di sana. Aku menangis. Aku hanya bisa menangis, melihatnya seperti itu. Andai aku bisa memutar balik waktu, aku tidak akan lari dari rumah, kak Rei tidak akan mengejarku dan berakhir seperti itu.    
 “Sudahlah, Cha. Mi mencoba menenangkanku. Aku masih terisak mengingat semua itu. “Ikhlaskan semua yang telah terjadi. Kalau kamu seperti ini, kak Rei akan sedih. Nggak kasihan sama kak Rei. Biarkan dia tenang di sana. Kamu jangan seperti ini terus. Cobalah untuk move on, Cha,” nasihat Mi untukku seraya mengelus lembut bahuku.
***
“Hai, jus wortel.” Aku mendengar seseorang menyapaku. Aku hanya memandangnya aneh. Tidak ada senyuman yang biasanya keluar ketika bertemu dengan orang yang menyapaku.
“Maaf, aku nggak tahu namamu. Aku Han.”
“Chaca,” jawabku datar. Aku masih fokus memandang ke arah barat.
“Nungguin siapa?” tanyanya.
“Jemputan.” Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil yang aku tunggu sedari tadi. “Maaf, aku duluan. Jemputanku sudah datang.”
“Mana?”
“Itu.” Aku menunjuk ke mobil berwarna kuning.
“Angkot.” 
Sebuah angkot berwarna kuning ini telah membawaku, menjauh dari laki-laki itu. Aku menghela nafas lega. Aku tidak ingin berlama-lama bersama orang asing. Di dalam angkot, setumpuk pertanyaan memenuhi pikiranku. Dia itu siapa? Apa dia mengenalku? Apa aku pernah mengenalnya? Kenapa pula dia memanggilku jus wortel? Apa diriku ini terlihat seperti jus wortel? Ah, peduli amat.
***
Sepulang sekolah aku mampir ke toko buku di ujung jalan Merpati. Sekilas aku melihat orang itu. Aku tidak pernah membayangkan bertemu dia lagi di sini.
“Eh, ketemu lagi sama jus wortel.”
Aku mendengus kesal. Ini kali keenam aku bertemu dengannya di tempat yang berbeda dan selalu memanggilku dengan jus wortel. Rasanya dunia ini semakin sempit. Di mana-mana dia selalu ada. Dia juga selalu membicarakan hal-hal yang aneh, menurutku. 
“Aku duluan ya. Nanti kalau kita bertemu lagi berarti kita berjodoh. Dah.”
Jodoh? 
Aku tidak mengindahkan perkataannya. Mataku masih fokus, mencari buku yang bisa menarik perhatianku untuk dibawa pulang bersama novel yang berada di genggaman tanganku.
***
“Lho, ada jus wortel di sini.”
Dia lagi. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. 
“Jus wortel dua,” katanya pada pelayan yang menghampiri kami. “Sepertinya kita memang berjodoh ya, jus wortel,” serunya.
“Namaku Chaca bukan jus wortel,” kataku ketus.
“Iya, aku tahu. Tapi, aku suka memanggilmu jus wortel. Aku menghembuskan nafas dengan kasar lagi. Rasanya aku ingin segera pergi dari sini dan jauh-jauh darinya. Janjiku pada Mi untuk bertemu di Pingpong Cafe, mengurungkan niatku untuk beranjak dari kursi. 
Kamu suka banget ya sama jus wortel. Hampir setiap kali kamu ke sini, kamu selalu memesan jus wortel.”
“Hah? Dari mana dia tahu? batinku.
Aku tahu karena aku sering memperhatikanmu dari atas sana. Dia menunjuk ke sebuah ruangan berkaca di lantai dua. Sambil bermain pingpong.” Aku tidak pernah menyadari kalau di lantai dua ada tempat bermain pingpong. 
“Kafe ini milik temanku. Dia suka sekali bermain pingpong. Lalu menamai kafe ini dengan Pingpong Cafe, sesuai dengan hobinya. Dia juga membuat sebuah tempat bermain pingpong di lantai dua, jelasnya tentang asal usul nama Pingpong Cafe.
Aku ke sini hanya untuk mengatakan kalau aku akan pergi ke Belanda untuk berbisnis. Kemungkinan aku juga akan melanjutkan kuliahku di sana. Aku ingin kamu menungguku. Empat tahun lagi, aku akan datang padamu untuk menjemputmu.”
Menunggunya selama empat tahun. Emang dia itu siapa? Beraninya menyuruhku menunggu selama itu. Dan satu lagi, menjemput. Apa maksudnya itu? Aku masih setia berbicara dalam hati. 
Ini untukmu. Dia menyodorkan sebuah kotak berhias pita merah. Kamu akan tahu semua jawaban atas pertanyaanmu itu setelah membuka kotak itu. Aku pergi dulu ya. Dan tunggu aku, empat tahun lagi. Dah.
Apa maksudnya semua ini?
***
Tanpamu semuanya hilang. Hidup yang kujalani datar dan hambar yang berselimut sedih. Ceria, bahagia, kesal, dan marah telah lama hilang dari dalam diriku bersamamu yang telah menghilang. Namun, saat dia datang dan bersamanya, rasa itu kembali hidup dalam diriku. Ada sedih, kesal, marah, dan bahagia. Perasaanku berwarna seperti pelangi. 
“Maaf, selama ini aku membuatmu sedih. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan kembali seperti dulu lagi. Chaca yang ceria, penuh semangat, dan tersenyum setiap hari. Aku juga akan kembali mengejar impianku. Kak Rei, bolehkah aku bersamanya. Aku juga minta maaf karena posisimu akan tergantikan olehnya, kak Han.”
Aku tidak tahu seperti apa hubunganku dengan kak Han selama ini. Yang aku tahu, saat ini aku menunggunya untuk datang dan menjemputku. Puluhan surat darinya tertumpuk rapi di meja belajarku bersanding dengan boneka yang membawa segelas jus wortel, pemberiannya waktu itu. Dari puluhan suratnya yang mampir ke tanganku, aku hanya membalasnya sekali dalam satu kalimat. Terima kasih telah membuatku bahagia.
***
“Jus wortel, ini untukmu.” Kak Han memberikan segelas jus wortel ke padaku. Di saat seperti ini? Di saat aku mengenakan kebaya. Di saat semua teman perempuanku mendapat sebuket bunga atau setangkai bunga mawar, aku malah mendapat segelas jus wortel. Ah, menyebalkan. 
“Itu kesukaanmu. Dan ini hadiah kelulusanmu.” Sepertinya ia selalu tahu apa yang kupikirkan. 

Komentar